Kata ‘banjir’ kini sudah tak asing lagi di
telinga semua orang. Banjir merupakan salah satu bencana alam yang patut
diwaspadai oleh masyarakat karena sangat mudah terjadi terutama pada musim
hujan. Biasanya pada musim hujan, curah hujan dapat meningkat sehingga tingkat
terjadinya banjir semakin tinggi.
Indonesia merupakan salah satu negara yang
memiliki curah hujan tinggi setiap tahunnya, yang menyebabkan mudah terjadinya
banjir. “Pada saat musim hujan tiba, hampir seluruh daerah di Indonesia
mengalami banjir. Banjir adalah genangan air yang lebih tinggi dari permukaan
tanah dan mengalir cukup deras” (Tim Bina Karya Guru, 2007).
Beberapa jenis banjir di Indonesia yaitu
banjir: (a) bandang, (b) hujan ekstrim, (c) luapan sungai atau kiriman, (d)
pantai, dan (e) hulu. Banjir bandang ialah banjir besar yang terjadi secara
tiba-tiba dan berlangsung hanya sesaat yang dicirikan dengan debit sungai naik
secara cepat. Banjir hujan ekstrim ialah banjir yang terjadi hanya dalam waktu
enam jam sesudah hujan hebat mulai turun. Banjir luapan sungai atau kiriman
ialah banjir yang biasanya berlangsung dalam waktu lama dan tidak ada
tanda-tanda gangguan cuaca pada waktu banjir melanda dataran. Banjir pantai
ialah banjir yang disebabkan angin puyuh laut atau taifun dan gelombang pasang
air laut. Sedangkan banjir hulu ialah banjir yang terjadi di wilayah sempit,
kecepatan air tinggi, berlangsung cepat, dan jumlah air sedikit (“Jenis-jenis
Banjir,” n d).
Menurut Suherneti, Sujana, dan Kurniadi
(2010) beberapa jenis banjir tersebut rupanya terjadi tidak hanya disebabkan
oleh curah hujan yang tinggi. Beberapa penyebab terjadinya banjir tersebut
antara lain: (a) pendangkalan dan penyempitan sungai, (b) penyumbatan aliran
air oleh sampah, (c) jumlah air yang mengalir semakin besar, (d) sistem pembuangan
air buruk, dan (e) tanah longsor. Tanah longsor juga dapat terjadi karena
beberapa penyebab antara lain: (a) pembangunan pemukiman di daerah rawan
longsor, (b) melakukan penambangan tanpa memperhatikan keseimbangan lahan, dan (c)
membuka lahan pertanian di sekitar lereng bukit.
Dilihat dari penyebab di atas, dapat
dikatakan bahwa penyebab tersebut timbul karena perilaku manusia. Masih banyak
orang yang mungkin tidak sadar bahwa perbuatannya dapat menyebabkan banjir,
yang membawa dampak negatif bagi kehidupan. Penulis membagi dampak negatif
banjir menjadi dua yaitu, dampak langsung dan tidak langsung. Dampak langsung
dari banjir antara lain: (a) merusak sarana dan prasarana, (b) menyebabkan
korban jiwa, (c) hilangnya harta benda dan kerugian berupa materi, (d)
memutuskan jalur transportasi, (e) mencemari lingkungan, (f) menghambat
aktivitas masyarakat, dan (g) menyebabkan erosi dan tanah longsor. Sedangkan
dampak tidak langsung dari banjir antara lain: (a) menimbulkan kemacetan, (b)
menyebarkan bibit penyakit, (c) menyebabkan trauma pada seseorang, dan (d)
merusak perekonomian.
Bayangkan seberapa besar kerugian
masyarakat dengan adanya dampak banjir tersebut. Namun, agar dapat menghindari
semua itu penulis memiliki beberapa cara untuk mengatasi banjir. Dalam mengatasi
banjir, setiap orang dapat berpartisipasi aktif mulai dari hal yang paling
kecil sebelum terjadi, yaitu: (a) membuang sampah pada tempatnya, (b) melakukan
kerja bakti untuk membersihkan lingkungan dan saluran air, (c) melakukan
penghijauan dengan menanam pohon (reboisasi), dan (d) membuat biopori agar air
dapat lebih mudah di serap tanah.
Selain cara-cara penanggulangan di atas,
setiap orang juga harus memiliki rasa kesadaran dalam dirinya untuk menjaga
lingkungan. Hal tersebut dapat mulai diterapkan sejak dini pada seluruh
masyarakat, karena dengan demikian banjir akan semakin berkurang dan masyarakat
dapat hidup tentram dan damai tanpa adanya rasa takut.
Daftar Pustaka
Jenis-jenis banjir. (n d). Diunduh dari
http://www.wordpress.org
Suherneti.
N., Sujana. A., & Kurniadi. D. (2010). Pendidikan lingkungan hidup.
Jakarta, Indonesia: Grasindo.
Tim Bina Karya Guru. (2007). Ips terpadu. Jakarta, Indonesia: Erlangga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar